Selasa, 30 Oktober 2012

makalah PSK


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pelacuran merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang sudah dikenal sejak masa lampau dan sulit untuk dihentikan. Hal ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa ke masa. Pelacuran ini selain meresahkan masyarakat juga dapat mematikan karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku seks bebas tanpa pengaman.

Rumah toko [ruko] itu tidak memiliki nama, juga tidak ada spanduk atau papan nama apapun. Sekilas, orang menyangka bahwa rumah itu kosong, atau setidaknya, rumah itu bukan tempat usaha. Tetapi karena seorang supir taksi meyakinkan saya bahwa ruko tersebut adalah “sarang” pekerja seks komersial [PSK], maka pagi itu saya masuk ruang itu. Pintu tidak dikunci dan tidak dijaga. Begitu masuk, saya disambut ramah seorang lelaki berusia 50 tahun berperawakan ramping dengan kulit kuning dan bermata sipit. Ruang di dalam cukup luas, seperti tempat diskotek yang  dilengkapi kursi-kursi tamu, tanpa ada penerangan lampu. Seorng wanita yang saya duga istri lelaki tersebut juga menyambut saya seraya menunjukkan “barang dagangan” mereka di sebuah ruang di sisi diskotek. Tuan rumah yang ternyata “mami” dan “papi” ini bertepuk tangan seraya berteriak “Kerja...! Kerja...!!”

Sekira 30 wanita berusia antara 18 tahun hingga 25 tahun segera ambil posisi siap. Sebelumnya, sebagian mereka tidur-tiduran, mengobrol, atau berjalan mondar-mandir, bahkan sebagian ada yang bercanda di tempat diskotek. Ruang ini adalah show room, para lelaki hidung belang bebas memilih PSK yang disukai kemudian dibawa ke hotel. Para PSK duduk di kursi yang ditata mirip kursi-kursi di gedung bioskop. Kursi yang paling depan posisinya paling rendah. Kursi kedua lebih tinggi dari kursi di depan dan lebih rendah dari kursi ketiga dan seterusnya. Bedanya, di gedung bioskop orang yang duduk menghadap ke layar, sedangkan di sarang WTS ini orang duduk menghadap ke pintu.
                                                                                                         
Petikan berita diatas terjadi di salah satu pulau terpencil di negeri ini. Kami mengambilnya dari salah satu situs website di internet. Pulau yang terpencil saja masih bisa dijadikan sebagai sarang pelacuran, apalagi daerah-daerah yang mudah dijangkau??
Memang, pelacuran itu selalu ada pada semua negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang. Hal ini selalu menjadi masalah sosial atau menjadi objek urusan hukum dan tradisi. Di banyak negara, pelacuran masih dianggap sebagai “mata pencaharian”, oleh karena itu pelacuran akan tetap ada dan sulit bahkan hampir tidak mungkin bisa diberantas selama masih ada nafsu-nafsu seks yang lepas dari kendali kemauan dan hati nurani manusia.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari pelacuran?
2.      Apa saja penyebab dari meningkatnya pelacuran?
3.      Apa saja bentuk-bentuk dari pelacuran?
4.      Bagaimana penjelasan pelacuran secara teoritis?
5.      Dampak/akibat apa saja yang mungkin timbul dari pelacuran?
6.      Apa solusi/alternatif pemecahan masalah akan adanya fenomena pelacuran?

C.    Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah yang kami kemukakan di atas, di harapkan dengan penulisan makalah ini kami dapat:
1.      Mengetahui pengertian dari pelacuran.
2.      Mengetahui sebab-sebab, bentuk-bentuk, serta akibat dari pelacuran.
3.      Menjelaskan tentang pelacuran secara teoritis.
4.      Membantu pemerintah mengurangi tindak pelacuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar